Pelatihannya gimana nih?
Wah wah wah...
Awalnya aja semangat, magang jadi ibu. sekarang udah melempem. gimana nih?
Bukan gak pengen semangat sih... flow perkuliahan naiknya drastis abis. Kuliahnya dobel pula. Pagi iya, siang juga iya. Kalo istilah elektro nya mah kondisi transiennya sangat singkat. cie cie...
Intinya gak bisa bagi waktu, gak bisa jaga konsentrasi, serba gak bisa...

Jadi kagum dengan ummahat2 yang sukses dengan kuliahnya, sukses berbisnis, sukses berda'wah, sukses mendidik anak, sukses semuanya deh. Kerasa banget ... melakukan peran2 sebanyak itu bukan hal yang mudah jika tidak dibarengi dengan ilmu, kedekatan dengan Allah dan rasa tanggung jawab yang penuh terhadap umat dan keluarga.
Gak heran banyak akhawat yang tenggelam dari peredaran aktivitas dawah setelah menikah :(
Memang tantangannya luar biasa.
Jadi teringat dgn kisah2 akhawat yang menikah/ingin menikah dengan pasivis dawah :P (gak tega bilang: ikhwan y ang bukan akhtvis dawah... kalimat negatif memberikan aura negatif juga pada penulis maupun pembaca).

Kayaknya tantangannya lebih berat lagi... curiga gak boleh ikut aksi, gak boleh ikut ta'lim, gak boleh ikut syuro,gak boleh ikut liqo... gawat!!! lama-lama imannya bisa habis juga kalo gak semepet mensterilkan diri dan me-recharge kekuatan.
Semoga aja... Allah memberikan kekuatan bagi para akhawat untuk menghadapi ujian keimanan yang satu ini.
(sebenarnya... aku sedang mengkhwatirkan seseorang...)

Punten mau ikut berpendapat..
In my opinion, postingannya agak terlalu berlebihan (sorry..). Emang kategori aktivis/pasivis teh gimana? Dan apakan punya suami aktivis juga menjamin bakal "diizinin" untuk tetap aktif?
Rasanya banyak juga, aktivis yang "dijodohkan" oelh murabbinya ke sesama aktivis, tapi setelah menikah dia juga hilang dari peredaran??
Dan yang terpenting, apakah "hilang dari peredaran" itu salah??? Kalo memang dengan menaati suami itu berarti juga menaati Allah SWT dan Rasul-Nya, trus apa salahnya? Umm, menurut gHina sih, orientasi kita kan keridhoan Allah SWT (bukankah itu yang selalu teteh dengungkan?) =), jadi apapun caranya ga masalah kan? ^-^
terakhir..menurut gHina sih.. Cari suami ngga usah aktivis, cari aja yang berkomitman sama islam, mau belajar, mau sama-sama selau memperbaiki diri. Hehe..sotoy gini...
Afwan kalo ada kata-kata yang kurang berkenan.. ^-^
Posted by: gHina | September 15, 2006 07:49 PM
Hmm... memang tidak semua yang aktivis akan mengizinkan dan yang tidak aktivis akan tidak mengizinkan. Saya punya temen yang bukan aktivis tapi simpati berat sama dawah dan dia mendorong istrinya untuk belajar islam. Setidaknya dengan background yang sama2 pernah beraktivitas dan paham urgensinya akan lebih mudah untuk menyamakan langkah. Sepertinya sih gitu. Maklum belum pengalaman :P
Soal hilang dari peredaran itu bukan salah perjodohannya, tapi sepertinya salah niatnya dari awal. Ada yang ikut perjodohan tapi punya kriteria yang spesifik alias menunjuk pada satu orang tertentu... berarti udah ngeceng duluan dong...
Nah cara juga penting... boleh dengan cara apa aja, yang penting gak melewati koridor yang udah digariskan oleh ALLAH SWT. saya juga punya temen yang gak ikut perjodohan tapi dia gak pacaran juga. dan sekarang udah punya dua nak yang lucu2 dan berakhlak baik.
Ya setuju... aktivis itu cuman nama aja. lagian aktivis kan gak selalu aktivis dawah. bisa aja aktivis unit kesenian. atau kalaupun aktivis dawah, dawah apa dulu? dawah islam? dawah kristen?
Gak sotoy kok.
Posted by: Detriana | September 20, 2006 07:41 AM
Yang saya maksud aktivis di sini adalah yang seperti ghina sebutkan. yang punya komitmen, sama2 ingin belajar islam, memperbaiki diri etc.
Posted by: Detriana | September 20, 2006 07:44 AM
Kalo akhwat pada nyari calon suami yang aktivis dakwah semua, ntar ikhwan pasivis dakwah *mengutip kata2 detri :D* nikahnya sama siapa dunk? *tentunya sih sama perempuan*
Setuju sama gHina di atas, bahwa mendapat suami aktivis dakwah nggak menjamin akan tetap diizinkan untuk tetap aktif begitu juga sebaliknya. Itu semua tergantung dari si calon suami.
Tentang "menghilang" dari "peredaran", apakah itu salah? Jika itu dilakukan demi keluarganya saya pikir nggak ada masalah. Toh istri yang sholehah juga harus berbakti kepada suami dan bertanggung jawab sama keluarganya.
Meskipun tugas dakwah tidak mudah, jika sudah bersuami jangan sampai lupa juga dengan urusan keluarga. Pernah denger cerita dari seorang teman, yang kakaknya seorang ustadz terpandang di daerahnya tapi perilaku anaknya tidak mencerminkan bahwa dia seorang anak juru dakwah. Meskipun istri dan anak nabi Nuh juga tidak mau beriman kepada Allah. Namun yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa dakwah jangan sampai membuat kita lupa dengan kondisi keluarga kita sendiri.
Dan mungkin yang terakhir, jangan underestimate dulu sama ikhwan pasivis dakwah. Tidak berarti mereka tidak mendukung dakwah Islam. Mungkin justru mereka punya semangat yang lebih besar untuk mempelajari Islam lebih dalam. Ingat, don't judge the book from its cover. Meskipun kadang ada benarnya juga.
Maaf kalo terlalu panjang.
Posted by: Tommi | September 22, 2006 06:42 AM
wah... tampaknya diskusinya jadi menghangat nih. ada yang mau ngasih comment lagi?
kayaknya kak tommi sedang memburu akhawat aktivis ya? hehehe :P curiga...
Posted by: Detriana | September 22, 2006 02:54 PM
Kok bisa nyisipin gambar ya ?
Caranya gimana teh ?
*komentar gak mutu... :)
Posted by: Mas TWN | September 27, 2006 02:34 AM
cara nyisipin gambar?
tinggal disisipin aja. copy paste gitu... sperti biasa.
selamat mencoba
Posted by: Detriana | November 3, 2006 01:09 AM
Dah bisa kok teh...
Makasih atas inponya...
Posted by: Mas TWN | November 3, 2006 01:36 AM
Salam...! subhanallah perjuangan para akhwat yang insya4JJ1 militansi ini..
jangan pernah menyerah... dan tingkatkan ketaqwaan kita ...
dan berhati-hati juga dalam menyampaikan atau menuliskan sesuatu dalam media seperti blog ini
jangan sampai yang seharusnya tidak boleh diketahui malah jadi diberitahu.. wasalamu'alaikum wr.wb.
Posted by: ivan's | May 6, 2007 12:20 PM